Kisah Hidup Katsuko Saruhashi, Ilmuwan Wanita yang Memulai Terobosan Ilmunya dari Melamun Saat Hujan

77

Ada yang menarik dari tampilan Google pada hari ini.

Untuk hari Kamis tanggal 22 Maret 2018 ini, Google Doodle ,menghadirkan tampilan halaman muka dengan tema sosok Katsuko Saruhashi.

Bagi warga Indonesia, sosok Katsuko Saruhashi adalah nama yang terdengar sangat asing di telinga bukan?

Meski begitu, ada cerita menarik dibalik sosok Katsuko Saruhashi sehingga sosoknya dijadikan tokoh pada Google Doodle hari ini.

Sosoknya dipandang begitu spesial di mata warga dunia karena menjadi salah satu tokoh wanita di dunia dalam bidang ilmu bumi terutama bidang geochemist.

Untuk mengupas sosoknya lebih dalam, mari kita simak salah satu quote dari sosoknya yang begitu terkenal.

Ada banyak wanita yang memiliki kemampuan untuk menjadi ilmuwan hebat. Saya ingin melihat hari ketika wanita dapat berkontribusi pada sains dan teknologi yang setara dengan pria.

Ya, sosok Katsuko Saruhashi adalah salah satu tokoh ilmuan wanita yang mencoba mendobrak kerangka sains dan teknologi yang sebelumnya selalu didominasi oleh kaum pria.

Langkah besarnya dalam bidang ilmu pengetahuan ini dimulai dengan sebuah kisah sederhana.

Semua bermula saat Saruhashi muda tengah duduk di ruang kelas di mana ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar.

Sama seperti bocah SD pada umumnya, Saruhashi kadang melamun di dalam kelas mengabaikan pelajaran dari gurunya.

Tak fokus dengan pelajaran yang mungkin dianggapnya membosankan kala itu, Saruhashi muda mengalihkan fokusnya pada hal yang lain.

Fokus Saruhashi kala itu tertuju pada jendela kelas yang berada di sampingya.

Ia termenung memandangi hujan yang turun rintik-rintik di luar kelas melalui jendela tersebut.

Dari hal sederhana ini, Saruhashi pun mulai bertanya-tanya.

Apa kiranya yang membuat hujan turun?

Perjalanannya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang cukup simple itu pun membawanya menjadi wanita pertama yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang kimia dari Universitas Tokyo pada tahun 1957.

Saruhashi sendiri terkenal karena penelitiannya yang inovatif sebagai seorang geokimiawan.

Dia adalah orang pertama yang secara akurat mengukur konsentrasi asam karbonat dalam air berdasarkan suhu, Tingkat pH, dan klorinitas.

Penelitannya ini pun menghasilkan rumusan klasifikasi ‘Tabel Saruhashi’ yang terbukti sebagai metodologi yang sangat berharga bagi para ahli kelautan di seluruh dunia hingga sekarang.

Dia juga mengembangkan teknik untuk melacak perjalanan kejatuhan radioaktif yang melintasi samudera .

Teknik yang ditemukan Saruhashi in pun ikut andil sebagai faktor pembatasan eksperimen nuklir di samudra pada tahun 1963.

Sepanjang karirnya di dunia geokimia yang mencakup 35 tahun, Saruhashi meraih begitu banyak penghargaan karena kontribusinya.

Ia pun menjadi wanita pertama yang terpilih menjadi anggota Dewan Ilmu Pengetahuan Jepang pada tahun 1980, dan wanita pertama yang mendapat penghargaan Miyake Prize untuk bidang geokimia pada tahun 1985.

Selain itu, Saruhashi juga memperoleh segudang penghargaan lainnya.

Dengan raihannya yang ikut mengharumkan kaum wanita di dunia keilmuan, Saruhashi pun berkomitmen untuk terus menginspirasi wanita muda untuk belajar sains.

Karena prestasi dan capaian yang diraihnya ini, pemerintah Jepang pun menetapkan penghargaan Saruhashi Prize mulai dari tahun 1981 bagi para ilmuwan wanita yang melakukan terobosan penelitian dalam ilmu pengetahuan alam.

Hari ini(22/3/2018), pada hari ulang tahunnya yang ke 98, Google memberikan penghormatan kepada Dr. Katsuko Saruhashi atas kontribusinya yang luar biasa terhadap sains melalui Google Doodle.

Semoga kisah Saruhashi yang dirayakan pada hari ulang tahunnya ini dapat menginspirasi dan mengilhami ilmuwan muda di seluruh dunia untuk meraih kesuksesan.

Terima kasih Saruhashi!

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Hidup Katsuko Saruhashi, Ilmuwan Wanita yang Memulai Terobosan Ilmunya dari Melamun Saat Hujan, http://www.tribunnews.com/sains/2018/03/22/kisah-hidup-katsuko-saruhashi-ilmuwan-wanita-yang-memulai-terobosan-ilmunya-dari-melamun-saat-hujan?page=3.
Penulis: Bobby Wiratama

Komentar

Komentar